By: Charita Maharani
Di dalam Al-Quran kita dapat menemukan kisah dari umat-umat terdahulu, baik sebagai suatu kaum maupun tokoh individu, yang mana tujuannya adalah menjadi teladan maupun pelajaran bagi orang-orang yang hidup sesudahnya dan mau mengambil pelajaran. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
لَـقَدۡ كَانَ فِىۡ قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٌ لِّاُولِى الۡاَلۡبَابِؕ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal”
(Qs. Yunus:111)
Ada tokoh-tokoh yang namanya terkadang sengaja tidak disebutkan karena teladan tersebut bukan terletak pada nama, melainkan pada akhlak dan perilaku. Salah satu tokoh yang dikisahkan dalam Al-Quran namun tidak disebutkan namanya adalah Ibunda Nabi Musa alayhisalam. Al-Quran hanya menyebutnya dengan “Umm Musa”, walaupun demikian kehadirannya dalam sejarah tentu memiliki peran yang sangat penting yaitu membesarkan, mendidik dan melindungi seorang rasul.
Nabi Musa alayhisalam lahir pada masa di mana Bani Israil berada dalam perbudakan yang sangat kejam di bawah tirani raja Ramses II yang bergelar Fir’aun. Dikisahkan Firaun pernah bermimpi yang membuatnya sangat ketakutan, ia kemudian mendatangi para peramal dan orang-orang bijak pada masa itu dan meminta mereka menafsirkan mimpi tersebut. Mereka mengatakan bahwa mimpi tersebut adalah pertanda bahwa seorang anak lelaki dari Bani Israil akan menggulingkan kekuasaannya dan membawa agama baru. Untuk mencegah ini terjadi Fir’aun mengeluarkan perintah untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil yang baru dilahirkan. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan atas perintah Fir’aun ini, bangsa Qibty (Mesir) khawatir apabila kelak Bani Israil akan punah dan hanya tersisa para wanita dari kalangan mereka. Jika demikian tidak ada lagi yang bisa mereka perbudak untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat. Akhirnya Fir’aun memutuskan untuk membunuh bayi laki-laki Bani Israil selama satu tahun, dan membiarkan mereka pada tahun berikutnya dan begitu seterusnya. Karena itu lah nabi Musa alayhisalam memiliki seorang saudara laki-laki bernama Harun yang juga menjadi seorang nabi.
Kala itu wanita-wanita Bani Israil yang sedang mengandung dilanda ketakutan dan kekhawatiran apabila bayi yang mereka kandung adalah laki-laki. Fir’aun menugaskan orang-orangnya untuk mengawasi wanita-wanita yang sedang hamil dan ketika akan bersalin hanya boleh dibidani oleh wanita dari bangsa Qibty. Ketika ibunda nabi Musa mengandung, tidak tampak padanya tanda-tanda kehamilan hingga mata-mata Fir’aun tidak mengetahuinya. Namun setelah ia melahirkan maka ia didera rasa takut karena bayinya laki-laki. Ditengah rasa takut dan cemas memikirkan nasib anaknya, ibunda Musa menerima ilham dari Allah Ta’ala:
وَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰٓى اُمِّ مُوۡسٰٓى اَنۡ اَرۡضِعِيۡهِۚ فَاِذَا خِفۡتِ عَلَيۡهِ فَاَ لۡقِيۡهِ فِى الۡيَمِّ وَلَا تَخَافِىۡ وَلَا تَحۡزَنِىۡۚ اِنَّا رَآدُّوۡهُ اِلَيۡكِ وَجٰعِلُوۡهُ مِنَ الۡمُرۡسَلِيۡنَ
“Dan Kami ilhamkan kepada ibunya Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul." (Qs. Al-Qashash : 7)
Ini adalah pesan cinta yang memberikan penghiburan dari Sang Pencipta kepada seorang wanita yang sedang mengalami situasi yang teramat sulit. Ayat ini mengandung dua pesan agar Ibunda Musa menyusui bayinya dan kemudian menghanyutkannya ke Sungai Nil. Sanggupkan seorang ibu melepaskan bayi yang baru saja dilahirkannya ke sebuah sungai yang berarus deras dan bermuara ke lautan?. Tapi Allah dengan kelembutan-Nya meminta agar ia tidak takut dan tidak bersedih, seolah Allah berkata “Percayalah kepada-Ku” dan Allah menguatkan dengan janji-Nya bahwa kelak anaknya tersebut akan dikembalikan kepadanya bahkan akan dijadikan seorang rasul.
Skenario Allah terus berjalan dengan lembut dan indahnya, mulai dari diselamatkannya bayi Musa kecil oleh istri Fir’aun sendiri yaitu Asiyah binti Muzahim, lalu Asiyah yang terpikat hatinya mengangkat Musa menjadi anak hingga sang ibunda sendiri yang terpilih menjadi ibu susu bayi Musa dan akhirnya bisa membawa bayi Musa kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarganya. Dengan ini Allah telah menepati janji-Nya mengembalikan Musa kepada ibundanya bahkan tanpa peperangan dan pertumpahan darah.
Satu hal yang harus kita pahami bahwa kisah-kisah dalam Al-Quran tidak terikat pada siapa tokohnya maupun zamannya. Apa yang dirasakan ibunda nabi Musa saat itu mungkin saja kita rasakan saat ini. Di masa ini, banyak wanita juga menghadapi berbagai tantangan dalam hidup mereka, baik dalam hal keluarga, pekerjaan, atau kehidupan pribadi. Dari kisah ibunda nabi Musa alayhisalam kita mendapatkan teladan bagaimana ia menghadapi situasi yang sangat sulit dengan keteguhan iman yang luar biasa. Meskipun harus menghadapi ancaman besar dari Firaun dan kekuasaan tiraninya, ia tetap teguh dan percaya pada apa yang telah Allah ilhamkan kepadanya. Ibunda nabi Musa alayhisalam mengajarkan kita untuk bersandar kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah akan memberikan petunjuk, kekuatan, dan jalan keluar yang diperlukan dalam setiap situasi. Bersandar kepada Allah adalah sumber ketenangan dan kepastian di tengah ketidakpastian hidup. Dari kisah ini pula, para wanita dapat memperoleh inspirasi tentang pentingnya peran mereka dalam membentuk masa depan generasi berikutnya.
Wallahu Ta’ala a’lam